    |
|
|
Rumah Warisan
By Bambang Udoyono
RUMAH WARISAN (My Ancestral House) Oleh : Bambang Udoyono Aku tinggal di sebuah rumah warisan dari nenek moyangku. Rumah ini sudah tua sekali, usianya sudah ratusan tahun. Ia konon dibangun pada jaman Hindia Belanda. Seperti rumah tua jaman Belanda yang lain, rumahku ini besar sekali. Halamannya sangat sangat luas. Aku sampai tidak tahu pasti ukuran tanah sebenarnya karena batas batasnya dengan halaman tetangga tidak pernah jelas. Kalau ada pihak yang memakan halaman orang aku juga tidak tahu siapa yang merugikan siapa dan seberapa banyak. Tapi kemungkinan besar adalah pihakku karena para anggota keluarga kami adalah orang orang zalim. Sejak dulu tidak pernah ada yang meributkan masalah ini karena semua orang di wilayah ini pasti segan atau takut dengan keluargaku. Maklum anggota keluargaku banyak sekali, sekitar dua ratus juta orang dan mereka rata rata suka bersikap beringas dan siap memukul siapa saja dan kapan saja. Korbannya juga sudah banyak. Bangunan rumahku sangat luas. Gayanya adalah campuran. Ada bagian yang nampak terpengaruh gaya bangunan Belanda asli. Tapi yang nampak dominan adalah masih tetap gaya Jawanya. Bagian terdepan adalah pendopo terbuka. Inilah tempat menerima tamu dan mengadakan perjamuan. Ada delapan soko guru (pilar utama) yang tinggi, besar dan nampak kokoh sekali. Bahannya adalah kayu jati nomor wahid. Pilar pilar itu dihiasi dengan emas dan ukiran yang indah dan rumit. Kamarnya banyak sekali sampai aku tidak tahu persis ada berapa. Di dalam kamar kamar yang berukuran beragam itulah saudara saudaraku tinggal bersama keluarganya. Mereka ada yang kaya raya tapi lebih banyak yang miskin. Mereka yang miskin ini memang payah. Mereka kumuh, bodoh dan pemarah. Jumlah kepala keluarganya juga tidak jelas bagiku tapi kalau jumlah jiwanya lebih dari dua ratus juta. Kami punya banyak kamar yang berfungsi sebagai gudang makanan alias lumbung. Ukurannya besar sekali, aku tidak tahu pasti berapa. Aku pernah melihat di dalamnya, isinya aadalah segala macam bahan pangan. Sebut saja semua jenis, semuanya ada di sana. Makanan Jawa, Cina, Jepang, Barat dan sebagainya semua ada. Dari gudang inilah semua anggota keluargaku mengambil makanan mereka. Sayangnya gudang ini tidak memiliki pintu yang kuat dan rapat sehingga setiap hari para tikus ikut berpesta pora. Saking banyaknya yang dicuri oleh para tikus ini akibatnya gudang ini sering kekurangan bahan pangan. Tanahnya sangat subur sehingga tanaman apa saja tumbuh makmur di sini. Berbagai macam tanaman buah selalu memberikan buah segar di sepanjang tahun. Sayur mayur juga tersedia di sepanjang tahun. Bunga indah tidak pernah absen di setiap musimnya. Tapi sayangnya lebih sering dinikmati pencuri yang antara lain para tetanggaku sendiri. Lokasi rumahku sangat bagus karena tidak jauh dari pusat kota. Di depan rumahku adalah jalan raya menuju pusat kota. Semua wilayah dari sebelah timur kota harus melewati depan rumahku. Demikian juga orang dari kawasan barat kota kalau mau ke timur harus melewati depan rumahku. Tidak heran banyak orang yang ngiler melihat lokasi rumahku. Semua kegiatan keluargaku terpusat di rumah besar ini. Hampir semua orang bekerja, belajar di rumah ini. Hanya sedikit sekali saudaraku yang bekerja di rumah tetangga. Ada juga yang jadi kaya karena bekerja di rumah tetangga tapi lebih banyak lagi yang justru semakin menderita setelah bekerja di rumah tetangga. Rumah besar ini sebenarnya masih kelihatan cantik dan anggun. Tapi sayang sekali, mungkin karena sudah dimakan usia atau dimakan tikus, sudah banyak sekali kerusakannya. Halamannya yang dulu indah karena ditumbuhi berbagai macam tanaman sekarang sudah mulai gundul, meranggas, menimbulkan udara panas dan sangat tidak nyaman. Atap rumah besar ini sudah pada bocor. Banyak sekali kebocoran di setiap kamarnya. Pipa airnya juga sudah sangat parah kebocorannya. Sedangkan sumur kami sudah hampir kering. Yang tersisa kini tinggal air kotor itupun cuma sedikit. Cat rumah sudah kusam dan mengelupas di sana sini. Di berbagai bagian ada lumut hijau tumbuh tebal dan di lain tempat ada noda noda hitam. Di beberapa bagian lapisan semennya sudah terlepas sehingga batu batanya kelihatan. Tingkah laku keluarga besarku akhir akhir ini membuat aku sangat malu. Bagaimana tidak jika banyak tetangga yang mengeluh lantaran anak anak keluarga besar kami pada keluyuran tanpa mau tahu aturan di rumah tetangga. Hal ini karena gudang pangan di rumah kami sering kehilangan, sehingga makanannya habis. Sebagian dari mereka memang mencari pekerjaan dengan baik baik di rumah rumah tetangga. Kebanyakan jadi pembantu, sopir atau buruh. Tapi tidak kalah banyak atau bahkan jauh lebih banyak yang tidak tahu tata krama apalagi hukum. Mereka main selonong saja tanpa permisi masuk ke rumah tetangga. Dengan enak saja mereka mengambil makanan dan minuman tetangga. Buah buahan tetangga juga enak saja mereka ambil. Hal ini sampai pernah mengakibatkan bentrokan fisik. Anak anak keluarga besarku diberi peringatan malah marah marah dan mengeroyok. Akibatnya para tetangga kami sekarang ini sudah banyak yang sebal dengan keluarga kami. Beberapa anak baik laki laki maupun perempuan bahkan ada yang memiliki profesi tidak terpuji. Karena itu ada beberapa rumah tetangga yang kaya ditembok keliling tinggi sekali sehingga mustahil bagi anak anak untuk masuk menyelonong. Tapi yang paling mengganggu di rumah ini adalah karena banyaknya tikus. Mereka nampaknya mendapatkan sorganya di rumah ini. Saking banyaknya tikus sampai tidak seorangpun tahu jumlah pastinya. Mereka juga memiliki tempat perlindungan di lobang lobang dalam rumah yang entah di mana. Para tikus ini sangat rakus. Apa saja mereka makan. Bukan saja makanan dan minuman tapi juga segala macam perabotan rumah mereka kerat bahkan tembok dan lantai pun mereka embat juga. Akibatnya lantai marmer yang semula mulus sekarang sudah bolong. Demikian juga dinding, soko guru, dan atap. Karena kerusakan rumah dan gangguan tikus ini semakin hari semakin parah maka akhirnya anggota keluargaku sepakat untuk membahasnya dalam rapat keluarga. Sebenarnya sudah pernah ada upaya perbaikan. Dulu, sekitar lima tahun yang lalu kami sekeluarga sepakat melakukan perbaikan. Kami lantas memanggil beberapa orang tukang dan membeli material. Perbaikan rumah dilakukan di sana sini. Memang ada sih perbaikan kecil di sana sini. Tembok sudah makin rapi, taman juga, cat juga sudah baru. Tapi sayang yang berubah semakin baik itu kok cuma penampilannya saja. Perubahan paling besar ada di ruang tamu. Ruang itu sekarang bersih, cat temboknya putih cerah, lantainya marmer mulus. Meja kursi juga semakin banyak baru dan rapi. Hampir semua tamu yang datang memuji rumah kami karena mereka hanya melihat ruang tamu saja. Tidak ada tamu yang tahu keadaan dalam rumah kami. Kamar mandi tetap bocor, pipa tetap bocor, atap tetap bocor. Jadi perbaikan itu masih tanggung, belum tuntas. Aku mendengar dari saudara saudaraku bahwa para tukang itu sebenarnya adalah tukang yang cukup pintar. Bahkan kepala tukangnya adalah orang yang sangat pintar. Tapi sayang dia diganggu oleh, lagi lagi, para tikus. Konon material sering hilang dimakan tikus. Bahkan batu, kayu, cat, semen dan pasir dimakan juga ! Suatu hari keluarga besarku rapat di pendopo yang sangat luas. Sebagian besar penghuni dewasa hadir dalam rapat keluarga ini. Aku mendapat kepercayan untuk memimpin rapat itu. Setelah berbasa basi membuka rapat aku segera memaparkan permasalahan yang dihadapi oleh keluarga besar sehubungan dengan rumah besar dan rusak yang kami warisi ini. Berbagai usulan muncul dari hadirin. Sebagain besar dari mereka ternyata hanya menginginkan untuk mengecat saja dengan cat putih terbaik yang ada di dunia. Mereka tidak peduli dengan biayanya. ‘ Kalau rumah kita kelihatan putih bersih , ’ Kata seorang saudara tua, ‘ maka orang akan percaya bahwa kita kaya, pintar, jadi nama baik keluarga akan pulih. rejekipun akan datang ‘. Seorang saudara yang bernama Siswo bertanya, ‘ Bagaimana dengan kebocoran ?, apa tidak lebih baik ditambal dulu segala macam kebocoran itu agar tidak mengotori tembok ? Kalau bocor sudah berhenti maka otomatis tembok akan bersih sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya lagi untuk mengecat ! ‘. Siswo adalah seorang mahasiswa di Universitas Gadjah Mungkur yang sangat cerdas, kritis dan berani . ‘ Goblok ! ‘, seorang saudara tua marah marah. Namanya Pak Suman, biasa kami plesetkan menjadi Haryo Suman, nama lain dari seorang tokoh licik dalam kisah wayang Purwo. Selain kemiripan nama, alasan kami memplesetkan namanya adalah karena ekspresi wajahnya memancing kami untuk mendapatkan kesan bahwa dia seorang yang licik dan korup. Meskipun tindak tanduknya halus, tapi dia suka memandang rendah orang, minta dihormati berlebih. Gaya bicaranya juga suka memakai gaya pejabat Orba yang mengucapkan kan menjadi ken. ‘ Kalau bocor kan enak tidak perlu cari air, air sudah datang sendiri ! Itu berarti kau tidak nasionalis ! Masalah seperti ini tidak perlu dibesar besarken !‘. (Lho apa kaitannya bocor dengan nasionalisme ? kataku dalam hati). Seorang saudara lain, bernama Sarjono, mengatakan bahwa kerusakan terparah adalah akibat ulah tikus. Oleh karena itu katanya lagi, ‘ Prioritas pertama dalah membasmi tikus ‘. Perdebatan segera mengarah ke caranya. ‘ Dari sekian cara yang sudah dicoba para tetangga‘, katanya yang paling manjur adalah dengan membongkar bangunan! Karena di rumah kita ini terlalu banyak lobang persembunyian tikus. Ada di soko guru, di tembok, di pipa, di kamar mandi dan di segala bagian ‘. Selanjutnya Sarjono mengusulkan karena kerusakannya sudah menyeluruh sehingga tidak mungkin lagi diperbaiki, rumah ini harus dirancang ulang. Rumah lama harus dirobohkan lalu dibangun yang baru berdasarkan rancangan baru !. Wah ini usulan gila !, pikirku. ‘ Bagaimana dengan biayanya ? Siapa yang akan membayar ? ‘ tanyaku. ‘ Kita semua ‘ , katanya. ‘ Enak saja kau bilang kita semua ‘, aku jadi marah kali ini. ‘ Lha kan bukan aku yang mengakibatkan kerusakan rumah ini. Kenapa aku, kau dan yang lain juga harus ikut menanggung biayanya ? ‘. ‘ Habis kalau bukan kita semua siapa lagi ? ‘ katanya lagi. ‘ Apa mungkin para tikus itu kita mintai pertanggung jawaban ? Baru menangkapnya saja sudah sulit, apalagi nanti omongnya bagaimana ? Siapa yang bisa omong dengan tikus ? Bagaimana kalau tikusnya sakit, atau pura pura sakit, tidak bisa kan diperiksa ? Lagipula, katanya lagi, para tikus itu sudah mendengar bocoran tentang rapat kita kali ini jadi selain sakit dan pura pura sakit ada yang sudah lari ke rumah tetangga yang memang rejekinya dari beternak tikus ‘. Seorang saudara lain, Pak Pidel yang dijuluki Pidel Sastro, mengusulkan, ‘Sebenarnya tidak perlu dirobohkan, karena akan memakan biaya yang sangat besar dan toh masih ada juga sisa struktur bangunan lama yang bisa dimanfaatkan. Jadi yang perlu dilakukan adalah renovasi sebagian. Pilar pilar utama, tembok, saluran air, kamar mandi, lumbung dan dapur adalah yang paling perlu direnovasi ‘, katanya. Kali ini yang bernama Karto Marmo punya usul yang unik. “ Kita semua kan tahu kalau biang keladi semua kerusakan ini adalah tikus, karena itu sebaiknya kita mencari seorang pawang tikus untuk menjinakkan para tikus ! “. Yang lain segera menukas, “ Walaupun dia pawang tikus, dia perlu juga memberi makan para tikusnya kan ? Nah , dari mana dia mendapatkan makanan untuk ratusan ribu tikus itu kalau tidak mencuri milik kita ?”. Malam semakin larut dan perdebatan semakin menghangat. Tidak kunjung ada solusi bagi rumah kami sedangkan keadaan sudah semakin menyebalkan bahkan membahayakan. Keamanan pangan dan keamanan fisik kami terancam di setiap saat oleh saudara saudara kami dan tikus tikus kami. Rumah besar ini setiap saat bisa saja ambruk menjatuhi penghuninya, lantaran soko guru, tembok, atapnya sudah pada keropos, sedangkan bebannya berat sekali. Kalau sudah begini siapa yang harus bertanggung jawab ? Kami lagi kan ? Aku jadi pusing juga menghadapi persoalan rumah warisan sebesar ini tapi sudah bobrok begini. Atau sebaiknya aku pindah saja ? Sudah ada beberapa saudaraku yang tidak tahan dengan situasi di rumah ini lantas mencari pekerjaan di tanah seberang. Di sana mereka sudah hidup enak sekarang. Timbul keinginanku untuk menyusul mereka. *
This intel first appeared on: http://qondio.com
|
|
 |
|
PLEASE VISIT THE CONTRIBUTOR'S WEBSITE
No reactions yet.
Please login or sign up to rate this intel.
Please login or sign up to add a comment.
mantap om isinya!!! jgn lupa review intel saya om,saya tunggu masukannya!
The copyright for this content entitled "Rumah Warisan" has been specified by the contributor as:
All Rights Reserved
This content may not be copied, distributed or adapted by anyone under any circumstances.
|
 |
May, 2012
2008
January, February, March, April, May, June, July, August, September, October, November, December
2009
January, February, March, April, May, June, July, August, September, October, November, December
2010
January, February, March, April, May, June, July, August, September, October, November, December
2011
January, February, March, April, May, June, July, August, September, October, November, December
2012
January, February, March, April, May
|
|
Not a member yet?
Qondio is a powerful network for making it online. If you have a website to
promote, we can help.
Sign up and get in on the action.
|
|
Welcome to Qondio! Discover the awesome power this network can deliver by going to our About page. Or you could skip straight to the Sign Up form.
|
|