    |
|
|
Dursasana bui
By Bambang Udoyono
Wayang wong (orang) satu satunya di kotaku masih hidup sampai aku sekolah di SMA. Namanya Sastro Budoyo. Setiap malam mereka rajin pentas walaupun sepi penonton. Hanya malam minggu saja penontonnya agak banyak. Aku termasuk salah satu penggemar setianya karena bapakku rajin mengajakku nonton di setiap malam minggu sejak aku kecil. Ketika aku di kelas enam sd aku disuruh latihan tari di sana. Guruku tari bernama Pak Gombloh. Orangnya bertubuh kecil, perangainya ramah sekali. Setiap saat dia selalu lebih dulu menyapa setiap orang. Dia juga suka melucu. Kalau ngajar tari juga enak jadi kami semua muridnya suka sama dia. Di wayang wong Sastro Budoyo dia berperan sebagai Gareng punakawan Pandawa lima atau Anoman si monyet putih. Aku masih berlatih menari sampai klas dua SMP. Setelah itu aku tidak punya waktu lagi untuk tari karena aku lebih tertarik dengan latihan bela diri. Tapi aku masih suka menonton SB. Lagipula anak pak Gombloh itu temanku namanya Kusno. Kalau aku nonton aku seringkali ngobrol dulu di tempat tinggal pak Gombloh. Dia tinggal di asrama SB yang sangat sederhana. Rumah itu dari kayu dan dia hanya menempati dua kamar sederhana. Di sana tinggal puluhan karyawan SB, ada penabuh gamelan, penari, dan karyawan lain. Aku jadi kenal dengan mereka. Di sebelah kamarnya ada pak Samsudin yang tinggi besar sehingga sering jadi Bima. Ada Sunar yang jadi Arjuna. Ada Sutar yang jadi Suyudana dll. Sejak aku SMA hubunganku sudah renggang karena aku sibuk di SMA unggulan sedangkan Kusno tidak tahu sekolah di mana. Sejak aku kuliah SB hanya pentas dua kali seminggu pada malam Sabtu dan malam minggu karena kurang penonton. Setelah aku lulus kuliah aku pergi dari kota kelahiranku untuk bekerja di kota lain. Sejak itu aku sudah tidak pernah lagi kontak dengan mereka. Tigapuluh tahun telah berlalu. Suatu pagi aku dikejutkan dengan berita tv yang menayangkan ditangkapnya awak SB karena mencuri emas. Di sana ada Karwo yang biasa jadi Dursasana. Dalam cerita wayang Dursasana ini adalah adik raja besar Ngestina yaitu Prabu Suyudono alias Duryudono. Dalam penggrebegan itu hanya dia sendirian yang tertangkap sedangkan lainnya sempat kabur. Tapi di tahanan dia mengaku bahwa Sutar , Sunar, Samsudin , dll juga terlibat. Ketika ditanya wartawan tv mereka ngaku kalau gaji sebagai pemain wayang wong sangat minim. Sutar yang jadi raja Duryudono saja minim apalagi yang cuma jadi Dursasana kata Karwo. Maklum saja mereka cuma raja wayang bukan raja beneran. Mereka cuma berkuasa di panggung, jadi hanya seolah olah berkuasa tapi sebenarnya penguasa bukan mereka. Dibalik gemerlapnya busana keprabon dan kaprajuritan ternyata mereka tidak lebih dari orang kerdil saja dalam kehidupan nyata. Kerdil jiwanya, bukan raganya. Mereka tidak sanggup menghadapi kenyataan kecilnya gaji dan tingginya raja seolah olah. Jiwa mereka kalah dengan realita itu. Mereka ditaklukkan situasi dan kesulitan. Mereka bukan penakluk. Maharaja Hastinapura, atau dalam bahasa Jowo diucapkan Ngestina, sebenarnya adalah cuma suruhan dalang. Dialah penentu lakon. Dalang wayang wong ini tidak kelihatan karena duduknya ada di kegelapan. Biasanya dia duduk di bagian depan panggung bersama para penabuh gamelan. Jadi dia sealu lolos dari perhatian penonton. Biasanya penonton lebih memperhatikan mereka yang berakting di panggung. Apalagi kalau ada pemain yang cantik atau adegan yang menarik. Sri panggung itulah yang menyita perhatian penonton sampai mereka lupa bahwa sebenarnya si dalanglah yang berkuasa mengatur permainan. Dua hari kemudian mereka semua ditangkap. Di televisi aku melihat teman teman guruku yang aku juga pernah kenal. Ada Sutar, Sunar, Samsudin. Tentu saja mereka semua membantah keterangan Karwo. Mereka mengaku tidak tahu apapun tentang kasus pencurian itu. Tapi mereka tetap dalam tahanan. Beberapa bulan kemudian pengadilan Karwo digelar. Dia tetap bertahan pada keterangan semula bahwa Sutar, Sunar dan Samsudin terlibat. Tapi ternyata yang dihukum cuma Karwo. Dia diganjar hukuman lima tahun penjara. Entah bagaimana nasib yang lainnya karena sampai sekarang belum juga digelar pengadilan mereka. Kalau benar keterangan Karwo bahwa sebenarnya itu adalah kejahatan bersama tapi cuma dia saja yang dibui sungguh kasihan si Karwo. Kapan si Duryudono, Arjuna dan Bima dan lain lain dibui ? Sungguh tidak adil kalau cuma Dursasana yang dibui. Atau karena yang lain lihai menyembunyikan bukti ?
|
|
 |
|
PLEASE VISIT THE CONTRIBUTOR'S WEBSITE
No reactions yet.
Please login or sign up to rate this intel.
Please login or sign up to add a comment.
The copyright for this content entitled "Dursasana bui" has been specified by the contributor as:
All Rights Reserved
This content may not be copied, distributed or adapted by anyone under any circumstances.
|
 |
May, 2012
2008
January, February, March, April, May, June, July, August, September, October, November, December
2009
January, February, March, April, May, June, July, August, September, October, November, December
2010
January, February, March, April, May, June, July, August, September, October, November, December
2011
January, February, March, April, May, June, July, August, September, October, November, December
2012
January, February, March, April, May
|
|
Not a member yet?
Qondio is a powerful network for making it online. If you have a website to
promote, we can help.
Sign up and get in on the action.
|
|
Welcome to Qondio! Discover the awesome power this network can deliver by going to our About page. Or you could skip straight to the Sign Up form.
|
|